a. Cerita Pendek

Cerpen remaja

drqDengan santai Revan terus menuju sekolahnya sambil mendengarkan lagu dari earpotnya. Keasikanya terusik ketika tubuhnya dengan sempurna mendarat ditanah akibat ditabrak… cewek..???
“Eh.. sory…sory.. gue nggak sengaja” Kata cewek tersebut, sambil menunduk meminta maaf, eh salah ternyata dia menunduk untuk mengambil bukunya yang jatuh (-,-)
“Loe nggak papa kan…?” Katanya bisa bangun sendiri, sory ya, gue telat, da” sambungnya sambil berlalu pergi meninggalkan Revan yang masih terdampar dengan tampang cengo. Dengan mayun dia berdiri sambil menepuk debu-debu yang menempel dibajunya. Umpatnya lirih terlontar dari mulutnya, namun begitu berbalik tayang ulang terjadi karena lagi-lagi pantatnya harus kembali mencium aspal.
“Waduh nabrak lagi, sory beneran, beneran gue tadi terlambat soalnya ini hari pertama gue masuk sekolah, gue lari nggak liat elo, nabrak deh. Kalo yang barusan ada batu ditengah jalan berhubung mata dikepala nyandung deh, makanya bisa nabrak elo, lagian gue emang punya ma…”
“Diam loe..!” Bentak Revan yang membuat cewek itu, mangap tampa suara kayak di Puaus gitu. Setelah mampu berdiri ia segera berlalu pergi, rencananya sih emang mau marah tapi tadi matanya nggak sengaja melirik jam ditangannya, sepuluh menit lagi masuk kelas, sia-sia marah cuma lima menit mubazir waktu namanya.
Namun baru sepuluh langkah sebuah teriakan menghentikannya yang membuat punggungnya kembali tertabrak , syukurlah paling tidak kali ini ia tidak sampai terjatuh.
“Loe mau apa sih sebenarnya..?” Geram Revan sambil berbalik.
“Eh.. gue.” cewek itu tertunduk sambil mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Mau nanya kalau SMA 1 jalanya kemana ya…? belok kiri apa kanan…? soalnya gue baru disini jadi gue nggak tau..?” Sambungnya polos.
Kali ini Revan bener-bener kesel sudah menabrak nggak jelas, sekarang sok nanya alamat segala. Tapi, he..he… sepertinya otak evilnya sedang berfungsi waktu melihat penampilan cewek itu.
“Belok kiri jalan terus sampai lingkungan belok kanan jalan aja terus .” Sahun Revan sambil tersenyum.
“Jalan aja terus sampai loe ketemu pasar, rasain loe emang enak dibikin nyasar” Guman Revan lirih begitu cewek itu hilang ditikungan. Dengan perasaan puas ia melangkah kearah kiri. Dalam hati ia tertawa akan kebodohan cewek itu yang tidak melihat kesamaan seragam mereka yang memang sedikit tersamarkan karena jaket yang dikenakannya.
“Bruk…”
“Astaga..” keluh Revan sambil mengusap-usap ujung bagunya yang sedikit basah akibat kuah baksonya yang tumpah karena tubrukan dipunggungnya.
“eh maaf, tali sepatu gue lepas, terus terinjak makanya bisa hampir nubruk..”
“elo….!!!!”
Jerit keduanya serentak yang mengagetkan seluruh pengunjung kantin yang memang sedang rame-ramenya.
“Ya ampun Tifani kenapa harus teriak segala. Dan elo Van kenapa shcok gitu” Putus salsa.
“elo kan cowok kurang ajar yang bikin gue tadi pagi nyasar” geram Tifani dengan menunjuk kearah tepat kewajah Revan.
“Dan elo cewek yang akan jatuh saat berjalan diatas permukaan datar” ledek Revan sinis.
“itukan bukan kemauan gue, kalau harus bermasalah sama keseimbangan tubuh, lagian tadikan gue udah minta maaf saat tabrakannya, kok elo malah bikin nyasar, sekarang cepet minta maaf.”
“MInta maaf…? jangan mimpi” balas Revan sebelum akhirnya berlalu pergi.

Sejak insiden tersebut hubungan mereka jadi tidak pernah akur, yang sedikit banyak menarik perhatian seisi sekolah.
“kenapa sih elo nggak pernah akur sama Revan ..?” tanya Aulia pada Tifani sambil duduk-duduk dibangaun depan lapangan bola basket depan sekolah.
“yah itukan bukan kemauan gue, padahal tadinya gue pikir Revan itu keren lho, apa lagi waktu melihat senyumnya pertama kali, cute banget”
Langkah kaki Revan langsung terhenti. kepalanya menoleh, sebuah senyum kembali terukir dibibirnya mendengar kata-kata yang baru saja tertangkap indra pendengarannya.
“ketauan, loe naksir sama Revan ya..?” Tebak Dini kuat.
“Eh enggak kok cuma….?!?!”
“Cuma apa….? hayo” ledek teman-temannya yang lain, tampa menunggu bantahan yang keluar dari mulut TIfani, Revan lebih memilih berlalu.
“What…? taruhan..? elo pengen kita taruhan kalau elo bisa bikin Tifani jatuh cinta sama elo. dan bakalan elo putusin tepat dihari ulang tahun loe yang cuman tinggal dua minggu lagi…?” jerit Doni setengah berteriak, tidak percaya akan ide gila sahabatnya.
“ia gue bakalan bikin Tifani jatuh cinta sama gue, dan gue putusin didepan kalian semua, gimana…? berani nggak…?
“elo beneran udah gila” kata Alan menimpali, sementara Revan hanya angkat bahu.
“kalian takut..?” tantangnya lagi.
“oke 5 juta deal..?” balan Doni mengulurkan tangan
“Deal” sambung Revan mantab dan tersenyum puas tampa menyadari Benda persegi hitam sedari tadi tetap vokus padanya.
“Kanapa sih setiap gue ketemu elo selalu tertabrak…?” gerutu Revan sambil menyentuh kepalanya yang diperban.
“sory, tapi paling enggak kali ini kan bukan karena gue”. sahun Tifani merunduk, walau rasa bersalah sedikit menyentuhnya.
“nggak kok elo emang nggak harus meminta maaf, justru harusnya gue yang bilang makasih secara elo udah menyelamatkan gue, kalau nggak pasti udah ketabrak mobil, lebih parah lagi, untung aja ada loe cepet menabrak gue jadi sehingga kepala gue cuma sedikit kebentur batu, bukan tubuh gue yang kelindas mobil.
“Tapikan gue emang niat nabrak elo, bukan nggak sengaja babarak, secara elo jalannya melamun padahal udah jelas jelas ada mobil yang melaju.
“Watever deh, yang jelas makasih.”
Tifani mengangguk mendengarnya.
Sejak saat itu hubungan mereka sedikitnya membaik jika tidak mau dibilang akrab. Ditambah kenyataan kalau mereka ternyata bertetangga kerena keluarga Tifani ternyata pindah tepat didepan rumahnya Revan sementara Tifani bersahabat karib dengan Lara adik kandungnya Revan.
Tak terasa dua minggu telah berlalu Revan benar-benar galau terbesit rasa ragu dihatinya akan taruhannya. Apa lagi ia harus dihadapkan pada kenyataan kalau ia sudah terbiasa akan kehadiran Tifani atau lebih tepatnya ia merasa Tifani itu menarik.
Istirahat siang nanti adalah deadline taruhanya. Doni juga sudah juga sudah mengingatkan. setelah memikirkan untung dan rugi Revan sudah memutuskan dan memantapkan hatinya. Sampai berita dimading menghebohkan seluruh penjuru sekolahnya.
Dengan langkah tergesa diterobosnya gerombolan anak-anak shock saat mendapati berita yang tertera disana.
“ini mustahil..!”
saat berbalik shock untuk kedua kalinya begitu mendapati tatapan datar Tifani yang terjajar lurus padanya.
“Fan, ini tidak seperti yang elo bayangkan
“Memang apa yang elo pikirkan Takun shplis.
“elo pasti mikir kalau berita dimading soal gue taruhan gue sama temen-temen guekan…? gue nggak tau dari mana kata-kata itu berasal, tapi gue akui kalau awalnya itu semua emang benar, gue emang niat jadiin loe taruhan sampai akhirnya …?”
“akhirnya..?” tanya Tifani, karena Revan masih terdiam.
“Akhirnya gue sadar kalau gue beneran suka sama loe, dan gue beneran pengen jadiin loe pacar gue”
“O…?!”
“O…????!!!” Revan bingung akan reaksi Tifani. Dengan cepat ditahannya tangan Tifani sebelum dia berlalu.
“Terus…?”
“Elo belum jawab pertanyaan gue”
“Oke gue mau jadi pacar loe”
“Elo nggak marah…?” tanya Revan heran
“Enggak tapi gue mau kasi sarat sebelum gue jadikan pacar Kamu?
“syarat…? apa…?” tanya Revan harap-harap cemas, yang lain juga merasa penasaran
“syarat kalau loe nggak boleh marah”
“Gue..? marah…? untuk…?”
“ini” balas Tifani sambil menengadah tangan dan memberi isyarat kepada Doni untuk mendekat.
“Dasar payah loe Van,” ledek Doni sambil menyerahkan amplop ketangan Tifani.
“Sepuluh jutakan..?” tanya Tifani
“Iya pas nggak kurang” balas Doni terdengar nggak rela sementara TIfani tertawa.
“Tunggu dulu ini sebenarnya apa..? Terheran-heran” itu uang apa..?”
“O… ini uang taruhan, jadi waktu elo bikin taruhan ama temen-temen loe, gue juga ada disana. Foto dan biodata yang ada dimading juga hasil jepretan gue, tapi waktu itu gue tanggung datangin temen-temen loe lepas loe pergi, kita buat taruhan juga, kalo loe manyatakan cinta maka mereka bayar sepuluh juta”
“Ha…?!?!”Revan schok
“Jadi loe jadiin gue taruhan..?” geram Revan
“Kan sama kek loe” balas Tifani santai
“Jadi loe terima gue karena taruhan…?” tanya Revan sedikit kecewa.
“O.. tentu saja bukan karena itu”
“karna apa…?” tanya Revan tidak sabar.
“Karena gue juga suka sama loe”
Mau tidak mau Revan juga tersenyum simpul.
“Cuma…”
“Cuma apa…?”
“Cuma keknya tambah seru juga secara sekali merayu dua tiga pulau terlewati” kata Tifani sambil mengipas-ngipaskan uang diwajahnya.
“Tifani….!” nada suara Revan benar-benar terdengar menyeramkan apa lagi senyumnya sudah menghilang diwajahnya dan siap memangsa.
“O…O…” Tivani segera berbalik pergi, Revan yang berlari mengejarnya segera menghentikan niatnya begitu memandang lurus kedepan kekaki Tifani yang aneh. Sekali senyum kembali terlihat dibibirnya.
“Tiga”
“Dua”
“Satu”
“Deal”
Tifani sukses jatuh dilantai akibat menginjak tali sepatunya sendiri saat simpulnya terlepas, hening sejenak sebelum tawa meledak mengisi seluruh penjuru sekolah.
“Ah ternyata elo tetap aja cewek yang bakalan jatuh walaupun berjalan dipermukaan datar” Ledek Revan tampa mampu menahan tawa.
“ha…ha….ha…..”

Sumber Pustaka : http://www.zarnadi.blogspot.com/2012/01/cerpen-remaja-jatuh.html

Bidadari Saya!

Irwan memerhati adik bongsunya yang sedang leka bermain PSP. Keluhan berbunyi. Matanya turut mengerling ke arah kakak sulungnya yang sedang leka melipat baju. Sekali lagi dia mengeluh. Ira masih leka dengan PSP. Ikha membetulkan lipatan seluar. Irwan mengeluh kuat.
“Abang!” Serentak Ikha dan Ira bersuara.
“Abang ni kenapa? Orang nak main PSP pun tak senang.” Ira memulakan bicara. Geram melihat abangnya itu asyik mengeluh tak tentu pasal. Irwan diam tidak menjawab.
“Abang, kalau ada masalah cakap. Tak payah nak malu dengan kakak atau adik. Macam tak biasa. Kakak tak suka dengar abang mengeluh tak tentu pasal. Allah tak suka hamba-Nya mengeluh.” Giliran Ikha bersuara setelah Irwan diam seribu bahasa.
“Err..” Irwan menggaru kepalanya. Macam mana nak cakap ni.
“Abang ada masalah dengan Cik Siti ke?” Ira melontar soalan. Hah? Cik Siti?
“Cik Siti mana ni dik?” soalan dibalas soalan.
“Abang, adik cakap ‘Cik Siti’ mana yang ganggu fikiran abang sampai macam ni.” Oh, dah faham. Ikha tersenyum mendengar penerangan Ira.
“Mana adik tahu abang ada masalah dengan perempuan?”
Ira menggelengkan kepala sebelum menjawab. “Kakak, kasi terang sikit kat abang ni. Lambat pick up betul petang-petang ni. Sah lah penangan ‘Cik Siti’ kuat sangat.” Ikha tertawa kecil.
“ Abang, masalah lelaki yang paling besar ialah masalah ‘ Cik Siti’ tahu?” Dan nyata Irwan terdiam sekali lagi. Ni yang susah kalau jadi satu-satunya anak lelaki. Nak nak jadi anak tengah. Memang peninglah. Ira mematikan PSP. Ikha turut menghabiskan lipatan terakhir. Irwan kembali termenung. Ira memandang kakaknya. Mata mereka bertemu. Ikha mengangkat kening. Ira mengangkat bahu. Suasana hening seketika.
“Kakak..” Ikha memandang ke arah Irwan. Ira awal awal lagi sudah pasang telinga.
“ Pelik ke kalau kita asyik fikir pasal seseorang?” Ikha tersenyum mendengar pertanyaan adik lelakinya itu. Wajah yang sedikit berkerut itu di tenung.
“ Tak. Kenapa nak pelik pulak?”
“ Abang takut..” Ira lantas memotong
“ Abang takut lain pulak yang jadi kalau abang asyik fikir pasal ‘Cik Siti’abang tu?”
Irwan menelan air liur. Mana pernah dalam hidupnya memikirkan perempuan selain ahli keluarganya. Ikha tersenyum mendengar celahan Ira. Adik, adik.
“ Abang dah nak maghrib ni, pergilah mandi lepas tu solat. Kakak rasa abang patut tahu nak buat apa kan? Jangan risau, Allah kan ada.” Irwan senyum nipis. Tenang sedikit hatinya mendengar kata-kata kakaknya. Dia mengangguk perlahan. “ Adik pun sama, jangan asyik nak main game je. Pergi mandi sana.” Sambung Ikha lagi.
“ Alah, adik baru nak dengar story abang.” Irwan di sebelah senyum.
“Siapa nak cerita dengan adik? Perasan!” Irwan bangun dan bergerak ke arah tangga.
“ Amboi! Jual mahal ea, abang oit jangan menyesal tau.” Irwan hanya menjelir lidah kepada Ira.
“Kakak! Tengok abang tu!” Ikha hanya menggeleng melihat teletah adik-adiknya.
****
5 tahun kemudian..
“ Nak makan apa?” Ikha bertanya. Ira menyemak senarai menu di hadapannya. Irwan leka memerhati pemandangan di hadapannya.
“ Donut. Donut kakak tu sedap.”
 Jarinya menunding ke arah seorang gadis yang berada di balik kaunter. Gadis itu sedang elok menyusun donut di dalam piring untuk di hidangkan kepada pelangan. Tudungnya sedikit terbuai dek angin petang. Namun itu tidak menghalangnya untuk meneruskan perkerjaannya.
“Okey lah kalau macam tu, adik nak perisa apa?”
“Adik suka perisa strawberi dengan vanilla. Kakak nak yang mana?”
“ Kakak nak white chocolate satu. Abang?” Ikha berpaling ke kiri. Irwan leka memandang gadis yang berada di kaunter itu. Dia yakin dia kenal dengan gadis itu.
“Abang!” Irwan tersentak.
“Apa kes tengok anak dara orang macam nak telan ni. Jaga mata lah.” Ira mengusik. Irwan hanya tersengih.
“Kakak cakap apa tadi?”
“Abang ikut adik pergi beli donut tu.”
“Okey.” Ira bangun di ikuti Irwan.
“ Kak, nak donut strawberi satu, vanilla satu, white chocolate satu. Abang nak apa?” Ira berpaling ke sebelah setelah dua minit menanti jawapan si abang yang tidak kunjung tiba. Gadis yang mengambil pesanan di hadapan mereka hanya tunduk mencatat. Irwan leka sekali lagi memandang gadis itu.Hish, bahaya abang aku ni.
“Abang! Adik cakap ni.”  Irwan tersedar.
“Oreo.” Sepatah dia membalas. Gadis yang tunduk tadi mengangkat wajahnya. Oreo? Pucat lesi wajahnya memandang jejaka di hadapannya. Air liur di telan sedikit.
“Oreo tak ada encik.”
“Tak ada? Macam mana boleh tak ada?” Eh mamat ni. Banyak tanya pulak.
“Sebab tak ada lah encik. Kami tak jual perisa tu.” Balas gadis itu bersahaja.
“Saya tak kira saya nak perisa oreo jugak!”Bentak Irwan. Eh, apa hal pulak abang aku ni.
“Abang, dah tak ada tu tak payah lah. Pilih lah yang lain.” Ira menegur.
“Abang tak nak yang lain.” Tegas Irwan bersuara.
“ Maaf encik, kami dah tak jual lagi perisa tu. Kami minta maaf.” Irwan diam mendengar kata  si gadis tadi. Dia segera beredar dari situ. Ira tercengang melihat tingkah abangnya.
“Maaf kak, abang saya tu tak tahu apa angin yang datang sampai nak marah-marah.”
“Tak pa dik, dah biasa.” Gadis itu hanya tersenyum.
“Bungkuskan jelah donut tu. By the way, saya Ira. Ira Syafira. Nama kakak?” Ira memperkenalkan diri.
“ Amani. Amani Shafiqah. Panggil Kak Amani je.” Amani tersenyum. Bungkusan donut di berikan kepada Ira.
“Nanti jangan lupa singgah lagi ya.”
“Insya Allah. Terima kasih ya, Kak Amani. Balik dulu.” Amani hanya mengangguk.
******
Irwan tekun menyiapkan kerjanya. Sesekali matanya melirik pada telefon disebelahnya. Mana adik ni. Kata nak telefon. Tiba-tiba pintu biliknya di ketuk.
“Masuk.” Muncul seorang wanita.
“ Kak Lin ganggu?” Irwan tersenyum.
“Eh, tak lah. Ada apa kak?” Emelin mengambil tempat di hadapan Irwan. Sebuah bungkusan di letakkan di hadapan pemuda itu.
“Ada orang bagi.” Dahi Irwan berkerut.
“Siapa bagi?” tanya dia. Emelin hanya senyum.
“Tak tahu, akak tukang sampaikan je. Akak ada banyak kerja lagi ni, keluar dulu ya?” Irwan mengangguk. Emelin bangun dan menuju ke pintu.
“Kak Lin.” Emelin berpaling.
“Thanks.” Emelin mengangguk. Irwan memandang bungkusan di hadapannya. Sebuah kotak sederhana kecil berwarna hijau muda itu di belek. Perlahan kotak itu dibuka. Irwan sedikit kaget melihat isi kandungan kotak tersebut.
“Donut?” Biar betul. Perisa oreo pulak tu. Sehelai nota tertampal di belakang penutup kotak tersebut. ‘Happy Eating’. Irwan mencabut nota tersebut. Di belakang nota tersebut terdapat satu huruf yang jelas di tulis di atas permukaan kotak tersebut.
“ S?” Fulamak, anak siapa yang ajak main teka-teki ni. Aku dah lah fail pasal teka meneka ni. Donut di dalam kotak itu di renung kembali.
“Rezeki jangan di tolak.” Irwan mencapai donut tersebut. Dengan lafaz basmalah, donut itu selamat masuk ke mulutnya. Sedap. Rasanya sama seperti donut oreo yang pernah dia makan satu masa dahulu. Tak kan lah. Telefon di sebelah berbunyi.
“Adik kat bawah ni.” Suara Ira menjengah.
“Abang datang.” Telefon di matikan. Donut di pandang sekali lagi. Tunggu kejap ya Cik Donut. Kejap lagi aku makan.
*******
Amani mengurut perlahan bahunya.Penat! Seharian berada di kafe memang membuatkan dia tak menang tangan. Mana nak buat donut lagi, layan pelangan lagi. Tu tak kira jadi posmen tak bertauliah lagi. Tu lah, dulu ibu pesan duduk je kampung tanam jagung tak nak. Nak jugak bukak kedai sendiri. Bibirnya mengukir senyum. Ibu anak ibu dah berjaya.
“Oit! Berangan!.”Sergah Emelin. Dia ketawa kecil.
“Apa Kak Lin ni. Orang teringat ibu jelah.”
“ Ingat ibu ke ingat Irwan.” Satu cubitan hinggap di pipi Emelin.
“Apa Kak Lin ni. Mana orang ingat dia.”
“Ya ke? Boleh percaya ke?”
“Mestilah boleh. Pernah Amani tipu Kak Lin?” Emelin tersenyum lagi.
“ Mana lah tahu. Orang tu kan sampai sanggup hantar donut khas tiap-tiap hari.”
Amani tidak membalas. Memang pun, seminggu dia menyediakan donut oreo khas buat Irwan. Bila di tanya oleh Kak Lin mengapa dia melakukan semua itu, dia hanya mampu tersenyum. Sebenarnya dia sendiri tidak pasti tujuan sebenar dia menghantar donut-donut tersebut kepada Irwan. Tanda maaf?  Sebab tak jual donut oreo pada Irwan atau pun tanda dia muncul semula dalam hidup jejaka itu.
“ Kenapa Amani tak jumpa terus je dengan Irwan? Kenapa nak main sembunyi sembunyi?” Persoalan Emelin di biar sepi. Dia sendiri tiada jawapan.
“Kak Lin bukan apa, tak baik tau buat orang macam tu. Kalau Amani suka cakap lah suka. Kalau tak suka cakap tak suka. Jangan mainkan perasaan orang.” Bicara Emelin lembut.
“ Orang faham, cuma orang tak tahu nak cakap dengan Kak Lin macam mana. Orang bukan nak mainkan perasaan dia, orang cuma..” Tergantung di situ. Amani tunduk.
“Amani cuma apa? Tak pasti dengan perasaan Amani atau Amani tak pasti dengan apa yang Amani lakukan?” Perlahan Amani mengangguk.
“ Yang mana?” Emelin tidak dapat mentafsirkan anggukan Amani.
“Dua-dua.” Dua jari ditunjukkan kepada Emelin. Terangkat kening Emelin seketika. Berat masalah gadis ini.
“Habis tu, kenapa pandai-pandai buat hal macam ni?” Amani diam lagi. Betul ni kepala dah tak boleh bagi jawapan lagi.
“ Tak tahu? Berat ni dik.” Emelin mengeluh kecil. “ Kak Lin pun tak berani masuk campur hal Amani dengan Irwan ni. Tapi rasanya Irwan macam dah syak sesuatu. Pandai-pandailah Amani selesai kan.”
“Orang faham Kak Lin. Orang akan selesaikan perkara ni. Orang cuma nak minta tolong dengan Kak Lin satu je. Boleh?”
“Apa dia?” Amani senyum meleret. Bahaya ni.
*******
“ Abang.” Irwan angkat muka dari buku di tangan.
“Ada apa mama?” Buku di tutup. Dia merapatkan diri di sebelah mamanya.
“Mama nak tanya sikit boleh?” Irwan tersenyum. Kalau mama dah minta izin tu maksudnya memang besar soalan yang nak ditanya.
“Tanyalah mama, selagi abang boleh jawab abang jawab.” Balasnya.
“ Kakak dua minggu lagi dah nak langsung. Adik pun semalam keluarga Hazim dah datang merisik.” Puan Indah menarik nafas sebelum menyambung kata-katanya. “ Mama cuma nak tanya kalau-kalau abang dah ada yang nak abang petik?” Berbunga ayat Puan Indah. Irwan hanya senyum. Menyusun ayat membalas kata-kata mamanya.
“ Abang belum fikir sampai situ lagi mama.” Betul ke Irwan? Jangan main-main soal hati ini.
“Abang, kalau nak mama pergi pinangkan cakap. Jangan simpan sorang-sorang.” Irwan senyum lagi. Mama ni tengah mood nak terima menantu ke apa.
“Insya Allah, mama. Mama jangan risau ya.” Puan Indah senyum. Risau jugak melihat anak bujangnya asyik tersenyum sendirian.
“Mama, abang naik bilik dulu ya.” Puan Indah mengangguk. Satu kucupan hinggap di pipi Puan Indah. “Selamat malam mama.”
“Selamat malam sayang.” Puan Indah menghantar anaknya dengan pandangan mata.
Irwan memulas tombol pintu bilik. Kata-kata mamanya masih berputar di fikiran. Kahwin? Mungkin mama perasan sikapnya yang berubah sejak dua menjak ni. Laci meja kerjanya di buka. Penutup kotak kecil berwarna-warni di keluarkan. Dia menyusun penutup tersebut satu persatu.
Hari Isnin warna hijau muda. Huruf S.
Hari Selasa warna biru muda. Huruf O.
Hari Rabu warna kuning air. Huruf R.
Hari Khamis warna ungu. Huruf R.
Hari Jumaat warna merah hati. Huruf Y.
“SORRY.” Kenapa pulak si penghantar ni nak minta maaf? Sebab dia pernah bagi aku harapan lepas tu hilang macam tu. Sekarang ni muncul sekali lagi dengan puzzle macam ni. Apa yang awak nak lagi. Kenapa awak buat saya macam ni. Irwan bersandar di kerusi. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini.
*Imbas Kembali*
“Irwan!” teriak Aliya. Irwan yang tekun menyiapkan kerjanya itu memandang sekilas gadis yang memanggilnya.
“Kau dengar tak aku panggil ni.” Irwan hanya mengganguk.
“Habis kenapa kau tak jawab.”
“Malas.” Aliya mencebik.
“Ni, ada orang bagi.” Aliya menghulur kotak kecil. Irwan diam tidak memandang. Dia hanya meneruskan kerjanya. “Ambil lah.” Dengan malasnya Irwan mengambil kotak itu dan di biarkan di atas meja. Sombong!
“Aku blah dulu lah. Jangan pulak kau sombong sangat sampai tak nak bukak benda tu.” Irwan tidak menjawab. Aliya bangun meninggalkan Irwan.
“Macam mana?”
“Macam mana apa, macam tu lah. Kau macam tak tahu mamat sombong gila tu.” Balas Aliya. Amani senyum nipis. “Kau pun satu, sah-sah lah mamat tu tak layan, dah tak da orang lain ke yang kau nak suka.”
Amani hanya tersengih mendengar bebelan Aliya.
“Esok kau tolong lagi ea.”
“Hah! Tak serik-serik lah kau ni. Aku tak pernah jumpa perempuan yang macam kau tahu tak?” Amani senyum lagi. Sorry lah kawan. Hati dah terpaut susah sikit nak lepas.
******
Donut di susun elok di dalam dulang. Amani mengukir senyum. Penat macam mana pun senyum kena ada. Barulah ramai pelangan. Muka kena manis. Bicara kena lembut. Senyum Amani, senyum. Tak kisah lah apa yang orang nak kata, yang penting hati kita. Jangan risau Allah kan ada.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikummusalam.” Amani senyum. “ Nak beli donut?” Ira menggeleng.
 “Ira nak cakap sikit dengan Kak Amani.” Amani angkat kening.
“Jom lah duduk dulu, Kak Amani belanja minum ya.” Ira hanya mengangguk.
“Ada apa yang Ira nak cakap ni?” tanya Amani setelah meletakkan secawan nescafe ais di hadapan Ira.
“Ira nak jemput Kak Amani minggu depan.” Sekeping kad dihulurkan. Amani menyambutnya. Hish, kenapa berdebar-debar ni. Sampul di buka. Bibir mengukir senyum.
“Kak Ikha nak kahwin? Ingatkan Ira yang nak kahwin.” Ke ingatkan abang yang nak kahwin.
Ira senyum. “Ira punya lambat sikit, bagi lepas kakak dengan abang dulu.”
“Oh, maksudnya lepas ni giliran abang Ira lah ya.” Ira ketawa.
“Abang tu, calon ada ke tak da Ira pun tak tahu. Kalau abang lambat sangat, Ira jelah yang kahwin dulu.” Dia ketawa lagi.
“Amboi, tak sabar sangat tu.” Amani ketawa kecil.
“Alah, abang tu yang lambat sangat, Ira dah penat tunggu ni. Senang-senang Kak Amani jelah kahwin dengan abang.” Merah padam wajah Amani. Jangan dik, jangan bagi harapan. Hati akak ni mudah cair.
“ Kak Amani.”
“Ya.”
“Err….” teragak-agak Ira menutur. “Sebenarnya, Kak Amani kenal dengan abang kan?” Senyum kambing diukir di bibir Amani. Kenal dik, kenal sangat.
“Kenapa Ira tanya macam tu?” Amani mengetap bawah bibir.
“Tak ada apa, cuma Ira terasa yang Kak Amani macam dah lama kenal abang.” Wajah Amani ditenung Ira. Mencari makna di sebalik wajah suci itu.
“hmm.. Insya Allah,kalau tak ada apa apa Kak Amani datang.” Ira senyum.
“Kalau boleh datang ya, boleh kenal dengan mama.” Amani mengangguk. “Ira balik dulu lah Kak Amani,takut mama cari.” Ira bangun di susuli oleh Amani. Salam di beri. Ira keluar dari kafe milik Amani.  Amani mengeluh kecil. Maaf dik, belum masanya lagi untuk Ira tahu.
******
“ Agaknya kalau KLCC runtuh baru kau nak jumpa aku kan.” Selamba Aliya memerli Irwan.
“Alah aku sibuk, kau macam tak tahu.” Balas Irwan. Tujuan dia bertemu dengan Aliya adalah untuk menyelesaikan masalahnya.
“Kau ni dari dulu sama je, sibuk sibuk sibuk. Tak da alasan lain ke? Ni dah kenapa nak jumpa aku.” Irwan sengih. Aliya teman sekolah sampailah satu universiti.
“Sebenarnya aku nak tanya sikit kat kau.” Aliya memandang tanpa bersuara.
“Pasal Amani. Kau still contact dengan dia kan?” Aliya meneguk air teh perlahan.
“ Boleh lah tahan, kenapa? Bukan kau dah tak nak ambil tahu langsung pasal kawan aku tu?” Aduh, minah ni kalau kutuk orang memang tak bertempat.
“Tu dulu, sekarang lain.”
“Apa beza sekarang dengan dulu. Kau tahu tak, Amani tu punya sikit main baik. Dia kalau dah suka memang tak kan pandang lain. Dulu sanggup dia hari-hari buatkan kan kau donut oreo tu. Hanya untuk kau tau! Aku mintak sikit pun dia tak bagi. Punya lah dia sayang kat kau.” Panjang lebar Aliya menerang.
“Kalau dia betul sayang kat aku kenapa dia hilang macam tu je. 5 tahun Liya, langsung tak ada berita. Tiba-tiba je hilang.” Aliya sedikit tersentak. Nasib kau lah Irwan.
“Siapa suruh kau buat bodoh je dengan dia. Memang patut pun dia tinggalkan kau.” Kan dah kena. Aliya mencebik.
“ Liya kau macam tak kenal aku. Aku mana reti bab-bab cinta –cinta ni. Mana lah aku tahu dia…” putus di situ. Tak ada ayat yang mampu keluar.
“ Sudah lah, orang lembab pun boleh nampak. Sah sah lah si Amani suka gila kat kau. Kau pulak boleh buat tak tahu.”
 “Mana aku tahu. Dia tak cakap mestilah aku tak tahu.” Aliya terasa ingin mencampakkan gelas teh di hadapannya kepada Irwan.
“ Ya Allah, Irwan Shafiq! Takkan lah Amani kena cakap kat kau, sah sah lah dia perempuan. Kau ni kan!” Irwan sengih. Oh, tak boleh ea?
“Habis tu kau nak aku buat apa?” Irwan memandang Aliya. Gadis itu hanya tersenyum.
******
*Imbas Kembali*
“Kenapa kau kejam sangat ni?”
“Mana ada aku kejam, aku cuma diam kan diri je.” Aliya mengeleng kan kepalanya. Susahlah budak  ni.
“Dulu kau jugak yang tangkap cintan dengan dia. Habis sekarang kau nak undur diri pulak? Macam tu.”  Baru dua minggu dia tidak menghantar donut kepada Irwan. Ibu sendiri pelik melihat dia tidak lagi membuat donut.
“Dia tu yang tak pernah bagi respon kat aku, penat tau tak aku nak kejar dia.” Balas Amani. Aliya senyum kecil. Sejak bila kau kenal istilah penat ni Amani.
“Dah tu kau sure nak ikut atuk,nenek dengan ibu kau?” Amani diam sebentar. Memang lah kalau ikut hatinya dia tidak mahu meninggalkan tanah air tercinta. Tercinta lah sangat. Senang cerita tak sanggup nak tinggalkan Irwan, kan?
“ Aku tak sampai hati sebenarnya, Tapi aku kesian kan ibu. Ibu nak sangat aku ikut dia orang. Lagipun ibu memang nak suruh aku study kat sana. “
“ Alah, sebenarnya kau tu yang berat hati nak tinggalkan Irwan kan? Macam aku tak tahu. Pergi jelah. Kau dapat sambung study. Untung-untung nanti kau balik sini dapat buka kedai sendiri.”
Amani senyum nipis. Memang itu cita-cita dia. Ada kafe sendiri. Tapi, nak ikut ibu balik Itali yang berat.
“Liya, kau janji satu hal dengan aku.”
“Apa dia?”
“Jangan cakap dengan Irwan ea, aku ikut ibu aku.”
“Eh, nanti kalau dia tanya macam mana?”
“Dia tak tanya lah. Kau janganlah pandai pandai cakap dengan dia. Biar je.” Aliya mengeluh seketika.
“Okay. Ikut kau lah, nanti apa apa hal jangan salahkan aku.” Amani senyum.
******
Irwan leka memandang kakak dan adiknya yang sedang elok menyusun bunga telur. Sesekali kedengaran tawa mereka. Wajah kakak dan adiknya di pandang sekali lagi. Kedua-dua makin berseri, yalah yang seorang tu lusa nak bernikah. Yang seorang lagi tu bakal bertunang lagi dua minggu. Babah pun dah keluar amaran suruh dia cepat-cepat nikah. Kata babah, tak eloklah kalau biar adik tunggu lama-lama. Adik tak nak kahwin selagi abang tak kahwin. Lagipun keluarga Hazim dah datang merisik.  Nak kahwin macam mana kalau calon pun tak ada. Pelipis di garu. Bicara babah menjelma dalam ingatan.
“Kalau abang dah suka abang cakap jelah, tak elok buat anak dara orang tertunggu-tunggu.” Nasihat Encik Syukri. Anak lelakinya sudah dewasa. Sudah tahu beza antara baik dan buruk.
“Babah.” Encik Syukri pandang wajah anak lelakinya.
“Macam mana babah lamar mama?” Encik Syukri tersenyum.
“Abang!” Irwan terkejut. Hampir saja jantungnya gugur. Ira datang mendekat. Wajah abangnya di tenung dalam-dalam. Apa hal adik aku ni?
“Kenapa dengan adik ni? Pelik je perangai abang tengok.” Ira tersenyum.
“Adik tak pelik, abang yang pelik. Siap tanya babah pagi tadi macam mana babah lamar mama bagai, abang nak lamar siapa ni?” Mata Ira tepat memandang anak mata abangnya.
“Mana ada.”
“Betul ni? Jangan tipu adik tau.”
“Bila pulak abang tipu.”
“Kalau macam tu… sila terangkan siapa Kak Amani dalam hidup abang?” Gulp! Mak aii. Soalan cepumas dah keluar. Jawab Irwan. Jawab.
“Dia…dia..dia..”
“Dia apa?”
“Adik! Mari tolong mama.” Panggil Puan Indah.
“Alah mama.” Ira menarik muncung.
“Adik, jangan mengada. Macam mana lah Hazim boleh nak buat isteri ni.” Puan Indah sudah pun berdiri tidak jauh dari mereka.
“Pergi lah. Tak baik tau.” Mahu tak mahu terpaksalah Ira bangun.
“Abang hutang adik tau.” Ujarnya sambil bergerak ke arah Puan Indah.
Irwan tersenyum. Dia orang yang abang sayang. Dia yang pertama membuatkan abang gila bayang. Buat abang ternanti-nanti kan dia setiap hari. Dia bidadari abang. Ah, sudah. Baik kau sedar cepat Irwan.
“Babah!”
******
Suasana perkarangan rumah Encik Syukri meriah dengan paluan kompang. Al maklum nak menyambut menantu sulung. Puan Indah senyum tak sudah. Lega hatinya menyaksikan anak sulungnya selamat bernikah pagi tadi. Tetamu mulai membanjiri kawasan rumah Encik Syukri. Tak menang tangan Puan Indah sekeluarga melayan tetamu.
“Assalamualaikum.” Puan Indah dan Encik Syukri berpaling.
“Walalaikumussalam. Eh, Rose! Lamanya tak jumpa.” Puan Rose tersenyum. Dia menghulur tangan kepada Puan Indah. Lama sungguh dia tidak bertemu dengan rakannya itu.
“ Itulah, kalau kau tak kahwinkan anak tak ada nya aku nak datang ni.”
“ Yalah, orang tu dah duduk jauh. Nak pergi melawat pun kena naik kapal terbang.” Balas Puan Indah.
“Ada ada je, ni kenalkan anak saudara aku, Emelin. Katanya dia satu pejabat dengan anak kau.”
“Kawan Ikha ke?”
“Tak, satu pejabat dengan Irwan.” Emelin menjawab.
“Oh. Eh, anak kau mana? Lama dah tak jumpa mesti sekarang makin cantik kan.” Puan Rose senyum mendengar kata Puan Indah.
“Ada tu lambat sikit, tertinggal hadiah dalam kereta.”
“Eh, kenapa berbual dekat depan ni, panas tu. Rose masuk makan dulu.” Pelawa Encik Syukri.
“Yalah, Syukri.”Mereka melangkah masuk bersama. Puan Indah memanggil Ira dan Irwan.
“Ni anak lelaki aku, Irwan. Yang ni yang bongsu, Ira.” Masing- masing tunduk menyalami Puan Rose. Emelin senyum memandang Irwan.
“Ni Kak Lin punya mak saudara.” Emelin menerangkan kepada Irwan yang hairan melihat kedatangan Emelin bersama dengan Puan Rose.
“Assalamualaikum.”
“Kak Amani.” Panggil Ira. Amani senyum.
“Ni lah anak aku Indah. Amani Shafiqah.” Amani tunduk menyalami Puan Indah.
“La, Kak Amani anak kawan mama ke? Macam ni senang lah abang nak masuk minang Kak Amani.” Selamba Ira berkata. Tersedak Irwan seketika. Emelin senyum lebar. Mata Puan Indah meleret memandang anak lelakinya. Wajah Amani merah padam lah. Puan Rose turut memandang anak tunggalnya.
“Apa adik cakap?” belum sempat Ira membalas.
“Mama, abang pergi sana ya, babah panggil tu.” Segera Irwan beredar. Mak aii. Selamba betul lah adik ni. Eh, yang aku blah kenapa? Bukan sepatutnya Amani ke yang kena blah? Sudah..
*****
Kopi di kacau perlahan. Suasana Kafe Sha’s agak lenggang. Matanya memerhati kawasan sekeliling. Cantik! Puji hatinya. Masa berlalu dengan pantas. Dah masuk cawan yang kedua namun, orang yang di nanti tidak kunjung tiba. Keluahan kecil di lepaskan. Hadirnya dia di sini ialah untuk bersemuka dengan Amani. Mencari kepastian atas apa yang berlaku lima tahun yang lalu. Namun, apa yang dia dapat hari ini ialah masa yang terbuang. Kata pekerja di kafe itu tadi, Amani hanya keluar sebentar. Sebentar apa kalau dah dekat dua jam dia menunggu. Kenapa lah susah sangat nak jumpa dia ni. Itulah kau Irwan, dulu dia suka kat kau, kau buat tak tahu. Sekarang ni bila dah macam ni baru kau tahu macam mana perit nya nak kejar orang. Irwan mengetap bibir. Susahnya kalau hati bercanggah dengan pemikiran.
“Encik.” Irwan berpaling.
“Cik Amani tak datang kafe balik. Dia ada hal lain.” What? Aku tunggu berjam dekat sini baru sekarang nak cakap yang dia tak kan datang balik.
“Encik?”
“Bagi saya bil.” Pekerja itu mengangguk.
Sabarlah hati, nak pujuk orang memang macam ni.
******
“Amani.” Matanya terkatup rapat. Tak larat! Itulah, Ibu dah pesan jangan main hujan, sekarang siapa yang susah.
“Sayang bangun, kita makan bubur sikit.” Kepala di geleng perlahan. Tak nak! Kepala berat sangat.
“Tak nak. Kepala nak pecah.” Puan Rose senyum.
“Bangunlah, makan sikit. Perut tu tak boleh kosong. Nanti penyakit lain pulak yang datang.”
Bangun Amani! Jangan layan kan sangat kepala tu. Perlahan dia bangun dan bersandar di kepala katil.
“Makan sikit ya.”pujuk Puan Rose. Anak gadis nya kalau sakit memang degil. Nak ikutkan kepalanya sahaja.
Bubur ditiup perlahan. Satu suapan selamat tiba dalam mulut.
“Macam mana ibu nak tinggalkan kamu dekat sini. Kalau sakit nanti siapa yang nak jaga kan kamu.” Amani cuba mengukir senyum nipis.
“Ibu tak payah lah balik sana lagi. Kita tinggal kat sini jelah.” Tengah sakit pun boleh pujuk ibu ya.
Puan Rose senyum. “Tapi tak salahkan kalau ibu nak tinggal terus kat sana.”
“Ibu, atuk dengan nenek kan dah tak ada, kenapa ibu masih nak tinggal kat sana. Lagipun Uncle Raz yang akan uruskan kedai atuk.” Puan Rose masih tersenyum.
“Bagi ibu masa untuk berfikir. Sekarang Amani rehat cukup-cukup ya sayang.” Amani diam. Mungkin dia terlalu memaksa ibunya. Biarlah ibu membuat keputusan sendiri. Dia tiada hak untuk masuk campur dalam hal ibunya.
“Minum susu.” Gelas susu di hulur kepada Amani. Amani meneguk susu perlahan.
“Sekarang ni Amani tidur, jangan fikir apa-apa.” Amani mengangguk. Memang patut pun dia tidur. Kepala nya sikit lagi je nak hentak kat dinding sebab sakit sangat.
Puan Rose melangkah keluar dari bilik anaknya.
*******
“Abang.”
“hmm..” Matanya masih terkatup.
“Mama suruh bangun, cik Siti abang datang.” Cik Siti? Bila pulak ada saudara nama Cik Siti ni.
“Cik Sit…” tegak terus badannya.
“Ulang balik apa adik cakap.” Ternaik kening Ira seketika.
“Cik Siti abang datang dengan ibu dia. Mama panggil abang turun.” Usai berkata Ira terus berlalu. Tetamu di bawah harus dilayan. Irwan menggaru-garukan kepalanya. Bilik air di tuju. Wajahnya perlu di bersihkan. Takkan nak jumpa tetamu dengan wajah yang kusut masai.
Di ruang tamu Puan Indah sibuk melayan sahabatnya yang datang bertandang.
“Kenapa tak telefon dulu, nasib baik aku ada di rumah kalau tak melopong jelah kau datang.” Puan Rose tersenyum mendengar bicara sahabatnya.
“Alah, tadi keluar kejap. Alang-alang lalu ni singgah lah sekejap.”
Ira datang membawa dulang air.
“Mana abang? Tak turun lagi ke?”
“Kejap lagi turun lah tu. Mama bukan tak tahu hujung minggu macam ni.” Amani tersenyum mendengar kata-kata Ira.
Tiba-tiba kedengaran suara berdehem.
“Hah, baru nak turun. Auntie Rose lama dah tunggu.” Irwan sengih semata. Dia tunduk menyalami Puan Rose. Wajah Amani di pandang sekilas.
“Sihat Auntie?”
“Alhamdulilah, Auntie sihat.”
“Eh, Rose makan kat sini lah. Kita pun dah lama tak jumpa hari tu tak sempat nak berbual panjang.” Ajak Puan Indah. Puan Rose memandang ke arah Amani.
“Amani ada hal lain ke?” tanya Puan Rose. Amani hanya mengeleng.
“Elok lah tu, banyak cerita yang Auntie Indah nak bual kan dengan ibu kamu ni.”
“Bukan apa Indah, Amani ni baru je baik demam itu yang risau sikit. Sibuknya memanjang, kesihatan tak nak jaga.” Puan Indah senyum.
“Alah Rose, Si Irwan ni pun macam tu jugak, tak nampak batang hidung dia kalau tak hari minggu. Sibuk mengalahkan menteri. Entah bila entah nak kahwin.” Irwan yang berada di sebelah mamanya hanya diam. Mama ni kenapalah cakap pasal kahwin depan Auntie Rose. Segan je. Segan dengan Auntie Rose ke anak dia. Matanya melirik ke arah Amani. Gadis itu masih cantik seperti dulu. Masih lagi ayu. Senyuman dia masih lagi menawan. Malah lebih menawan, sampaikan hati dia boleh terbuai.
“Irwan.” Tersentak jejaka itu. Dia beristghifar di dalam hati.
“Abang berangan sampai mana? Holand? Poland? Ke dengan Cik Siti depan ni?”
“Adik, kenapa cakap macam tu.”tegur Puan Indah. Budak berdua ni, depan tetamu pun boleh bergurau. “Maaflah Rose, Ira dengan Irwan ni memang.”
“Tak pa lah, biasalah. Si Amani ni pun macam tu.” Eh, Ibu ni dengan Amani pun heret sekali.
“Sudahlah tu, marilah kita makan tengahari dulu.”Puan Rose mengangguk.
******
Irwan terdiam di sofa. Biar betul? Dia seakan tidak percaya mendengar khabar dari mama, babah dan adik perempuannya. Betul nekad gadis tu.
“Abang ada jawapan?” Irwan masih diam. Dia menimbang tara persoalan yang di utara kan oleh mamanya. Soal hati memanglah dia lemah.
“Abang, babah bukan nak memaksa. Tapi babah rasa baik abang fikir lah elok-elok. Babah tak nak abang menyesal kemudian hari.” Irwan mengangguk. Sungguh dia tidak menyangka dengan khabar yang dia dengar.  Baru dia hendak melangkah, terus sahaja Amani memotong. Bibir mengukir senyum.
******
“Kau biar betul? Serius ni.” Terangkat kening Aliya mendengar kata-kata Amani.
“ Aku empat rius dah ni.” Aliya menelan air liur. Betul lah kau Amani.
“Kau tak segan ke? Setahu aku kau lah gadis yang paling pemalu.” Kata-kata Aliya ada benarnya. Entah mengapa hatinya nekad melakukan perkara tersebut.
“Tak kut. Sebab tu aku berani kan diri. Lagipun, masa nabi kita kahwin kan Siti Khadijah yang lamar dia.” Betul jugak kata-kata Amani. Aliya menghirup jus epal di depannya.
“Ibu kau tak cakap apa-apa ke?”
“Ibu aku senyum je.” Mahu tercekik Aliya mendengarnya. Tak kan lah Auntie Rose boleh senyum je. Jangan-jangan dia..
“Ibu aku tak nak aku main- main dalam hal ni. Sebab tu dia macam tak kisah bila aku utarakan perkara ni.” Aliya pandang wajah gadis di hadapannya dengan renungan yang penuh makna. Selama dia mengenali gadis itu memang dia akui gadis itu punya kelebihan luar biasa. Jika tidak masakan dia bisa melakukan perkara yang jarang berlaku seperti ini.
“Liya, aku tahu kau mesti fikir yang aku ni tak tahu malu kan. Ada ke patut aku masuk pinang anak teruna orang. Tapi Liya, aku tak tipu diri aku lagi. Aku suka kat dia. Aku tak nak main tarik tali. Tak pa kalau dia menolak tapi at least dia tahu yang aku dah luahkan apa yang aku rasa. Aku tak nak ulang kesilapan yang pernah aku buat 5 tahun dulu.”
Amani mengakui salah dia meninggalkan Irwan 5 tahun dulu tanpa apa-apa pesanan. Tanpa kata mahupun ucapan. Keluhan di keluarkan.
“Amani, kau tahu kan aku sentiasa sokong kau. Kau jangan risau ya, kalau betul jodoh kau dengan Irwan, mesti dia tetap jugak jadi suami kau.”
******
*Imbas Kembali*
Amani menuntun basikalnya. Di dalam hati berbakul sumpah seranah. Sabar Amani, sabar. Allah nak uji tu. Entah apa malang yang menimpa dia, tayar basikal kesayangan dia pancit. Sama ada helahan orang ataupun dia terlanggar paku. Sungguh hatinya sakit. Ingat dekat ke jarak rumah dengan sekolah. Dah lah 2 kilometer, lepas tu tayar basikal pancit. Air pun dah habis. Sabar Amani, sabar.
“Err.. awak? Boleh kita tolong?” Amani berpaling. Seorang kanak-kanak lelaki sebaya dia berdiri di belakang dia.
“Kenapa dengan basikal awak? Pancit ea?” tanya kanak-kanak itu lagi. Amani hanya mengangguk.
“Tak pa lah, mari kita tumpangkan awak.” Eh, anak siapa yang baik hati sangat nak tumpangkan aku ni.
“Tak apalah, takkan saya nak tinggalkan basikal saya ni. Lagi satu Ayah saya tak suka saya balik dengan orang yang saya tak kenal.” Balas Amani. Kanak-kanak itu senyum.
“Tak pa, nanti kita cakap dengan Ayah awak. Awak duduk dekat belakang ni sambil pegang basikal awak. Saya kayuh perlahan je.” Pucuk di cita ulam mendatang. Sudahlah Amani, Ayah tak marah punya.
“Okeylah.” Amani duduk di belakang. Basikal mereka bergerak perlahan.
“Kenapa saya tak pernah nampak awak ya?” Tanya Amani.
“ Kita baru pindah sini semalam. Rumah awak yang mana satu ya?”
“Rumah saya yang warna kuning dekat hujung kampung ni. Rumah awak?”
“ Rumah kita dekat depan masjid. Rumah warna hijau muda tu.” Amani mengangguk perlahan. Ramah jugak budak ni.
“Awak dah sampai.” Amani turun dari basikal.
“Terima Kasih ya, ambil lah donut ni, tanda terima kasih saya.” Kanak-kanak itu senyum.
“Sama-sama. Kita balik dulu ya.” Kanak-kanak itu hilang dari pandangan Amani. Eh, lupa tanya nama dia. Tak pa lah esok kat sekolah boleh tanya.
******
Mata Amani jatuh pada cincin di jari. Esok bakal menjadi hari paling bersejarah dalam hidup. Petang tadi dia selamat menjadi tunang kepada Irwan Shafiq. Macam mimpi kan. Baru dua minggu lepas dia berterus terang dengan keluarga Irwan dan hari ini dia selamat menjadi tunang kepada lelaki itu. Malah esok bakal berlangsung majlis akad nikah. Mahu tak dahsyat. Tunang sehari cukup. Itulah yang dikatakan Irwan kepada ibunya. Entah mengapa ibunya setuju sahaja dnegan cadangan Irwan.Terkejut? memang lah. Tapi dalam dua minggu ni memang dia tidak berkesempatan bertemu dengan Irwan. Masa pilih cincin pun dengan Auntie Indah. Eh, petang tadi dah pesan kena panggil mama. Hehe. Buat segan je. Kali terakhir dia bertemu dengan lelaki itu semasa dia memberi jawapan di depan ahli keluarga mereka.
“Kita kahwin jelah bulan ni.” Mahu jatuh rahang Amani tika itu. Terketar-ketar tangannya. Tersedak Puan Indah yang sedang menghirup air teh buatan Amani. Ira di sebelah mamanya sudah tersenyum gembira. Encik Syukri hanya diam. Tidak mahu masuk campur. Amani cuba mengangkat wajahnya untuk bertentang mata dengan Irwan.
 
“Awak dengar tak?” Amani mengangguk
 
“Tak cepat sangat ke?”
 
“Tak lah, kita dah penat tunggu lima tahun. Kita tak nak tunggu lagi. Nanti awak lari lagi.”
Ucapan selamba Irwan mengundang tawa mereka yang berada di situ. Hish nak buat lawak pun bertempatlah.
Dan akhirnya itulah yang tertulis dalam takdirnya. Kalau memang jodoh tak ke mana. Nasiblah Irwan tak bangkitkan hal lima tahun dulu depan kaum keluarganya.
Pintu bilik berbunyi. Muncul wajah Puan Rose.
“  Tak tidur lagi?” Dia merapati anak gadisnya.
“Tak boleh tidurlah ibu.” Kepalanya di sandarkan di bahu ibunya.
“Kenapa? Takut pasal esok?” Amani diam. Puan Rose mengusap perlahan kepala anaknya.
“ Anak ibu dah nak jadi isteri orang.”
“Ibu, tinggal lah dengan Amani.” Puan Rose senyum. Tahu sudah taktik anaknya itu.
“Tak boleh lah sayang,ibu kena balik Itali.” Amani sudah menarik muka masam.
“Tak mahu lah macam tu,ibu janji lepas Uncle Raz kahwin, ibu balik teman Amani.”
“Janji?” Puan Rose mengangguk. Amani senyum. Dia tahu, selagi Uncle Raz adik bongsu ibu tak berkahwin selagi itulah ibunya tidak mahu meninggalkan adiknya itu seorang diri di Itali.
“Sekarang ni, Amani tidur. Nanti tak cukup rehat pulak. Malu je orang tengok mata pengantin perempuan bengkak.”
“Okey, good night ibu.”
“Good night, sayang.” Satu kucupan hinggap di dahi Amani.
*******
Irwan menarik nafas. Cuak sangat ke bang? Mestilah cuak. Tanya lah semua lelaki dalam dunia ni. Sah-sah lah semua cuak kalau bab malam pertama ni. Cool Irwan. Pintu bilik di pulas setelah salam di beri. Eh, kenapa tak ada orang? Pintu bilik air terbuka. Muncul Amani yang baru selesai mencuci wajahnya. Mata mereka bertembung. Amani tersenyum.
“Kenapa tercegat kat situ? Tak reti-reti nak masuk.” Irwan tersengih. Baru tersedar yang dia berdiri di hadapan pintu bilik sahaja.
“Amani dah solat?” Amani mengangguk.
“Abang nak solat ke?” Ceh, gaya cakap macam dah praktis lama je. Mana, nak terbelit lidah ni.
“Dah, abang dah solat dengan babah kat masjid tadi.” Mereka melabuhkan punggung di katil.
“Penat?” Macam dah tak ada soalan lain. Hish! orang nak hilangkan gugup lah.
“ Adalah macam nak tercabut kaki dengan tangan.” Irwan tertawa kecil.
“Sha..” Amani terdiam. Lama dia tidak mendengar panggilan tersebut. Mata mereka bertentangan.
“Mana abang..”
“ Kafe Sha’s. Ingat tak setiap kali Sha bagi donut masa kita sekolah dulu mesti Sha tulis perkataan tu dekat kotak.” Amani senyum. Dia ingat rupanya.
“Tak ada satu pun yang abang lupa. Semuanya pasal isteri abang ni abang tahu.” Amani nyata terdiam. Terasa ada butir mutiara yang bakal mencecah bumi.
“Sha minta maaf. Sha tak patut buat abang macam ni. Sha ingat abang dah tak suka dekat Sha. Sebab tu Sha pergi tak cakap apa-apa dengan abang. Sha cuma nak teman kan ibu dekat Itali. Sha tak ada niat nak tinggalkan abang. Sha sayang abang sangat-sangat.” Amani memeluk suaminya. Irwan tersenyum bahagia. Sengaja dia membiarkan isterinya meluahkan segalanya. Biarlah itu jadi titik mula kehidupan mereka suami isteri.
“Sha, abang tak salahkan Sha. Abang sendiri yang salah sebab tak pernah kisah dengan kehadiran Sha, sedangkan abang tahu dalam hati abang cuma ada Sha seorang dari hari pertama kita jumpa lagi.”
“Betul?”
“Betul lah.”
“Habis tu kenapa tak nak layan Sha. Penat tau orang beria-ia pujuk dia.” Irwan ketawa.
“Sebab abang tak reti hal-hal macam ni. Nasiblah isteri abang ni suka buat perkara berani mati.”
“Perli nampak.” Amani menarik muncung.
“Hey, dengar sini. Abang cintakan Sha seorang. Tak ada wanita lain selain Sha yang abang cinta dan abang janji cinta kita sampai syurga.”  Amani diam. Hatinya terusik. Padanlah tak pandai, sebab sekali ucap memang boleh buat semua wanita cair.
“Cair?” tanya Irwan. Perlahan Amani mengangguk. Ah, bahagianya!
“Abang.”
“Yes.”
“Kenapa abang suka donut?” Irwan tersenyum.
“Sebab dulu ada budak kecil tu bagi abang donut sebab tolong hantar dia balik rumah. Masa tu kan tayar basikal dia pancit, pastu muka dia merah sangat sebab tahan marah.” Bulat mata Amani.
“Abang! Tak baik tau perli orang.” Irwan ketawa.
“Sayang.” Mata Amani jatuh pada wajah suaminya.
“Awak bidadari saya.” Senyuman terukir. Insya Allah.
“Selagi abang janji untuk menjadi imam Sha, selagi itu Sha janji untuk jadi bidadari abang.”
“Thanks sayang.” Dan bahagia milik mereka. Sesungguhnya Allah lebih Mengetahui takdir setiap hamba-Nya.
-Tamat-

p/s: Alhamdulilah siap jugak cerpen ni. Saya berharap awak semua terima cerpen ni seadanya. Segala komen dan kritikan diterima dengan hati terbuka. Thank for everthings. Lastly, setiap yang berlaku ada hikmahnya. Seandainya dia jodoh kita, jangan risau dia tetap jadi milik kita. Insya Allah. Sekian.

Sumber Pustaka : http://www.novelmelayukreatif.com/index.php/cerpen-terbaru/168-nisrina-syaurah/334-bidadari-saya

Aku duduk dibangku kelas. Diam membisu seperti biasa. Menatap satu persatu teman yang sedang asyik ngobrol dengan tatapan semu. Biasanya aku, Andika, Ifan, dan Rafli akan bercerita tentang hal-hal yang lucu, romantis, ataupun horor. Tapi aku memilih diam. Menjadi pendengar yang baik untuk saat ini.
“Kamu ini kenapa sih Rizky?” tanya Andika yang duduk dibangku depanku bersama Ifan. Suaranya memecah suasana yang dari tadi ramai dan seakan tak peduli padaku.
“Mungkin galau karena si Uzzy itu? Iya kan?” celetuk Rafli yang duduk disampingku. Mereka tertawa. Tertawa bahagia tentunya. Bahagia sedangkan hatiku berduka. Kebiasaan kami berempat: menghibur salah satu teman yang sedang bersedih. Contohnya ya seperti ini.
“Kalian ini! Aku nggak mau digoda!” ucapku sambil berusaha memalingkan muka.
“Siapa juga yang mau goda kamu? Nggak usah mikirin orang itu lagi deh!” saran Rafli.
“NGGAK BISA!” balasku sambil terisak. Andika bernyanyi, dan diikuti oleh yang lainnya. Jelas sekali, mereka berusaha menghiburku.

Meski dirimu bukan milikku, Namun hatiku tetap untukmu
Berjuta pilihan disisiku, Takkan bisa menggantikanmu
Walau badai menerpa, Cintaku takkan ku lepas
Berikan kesempatan, Untuk membuktikan
Ku mampu jadi yang terbaik, dan masih jadi yang terbaik…

Ku akan menanti, Meski harus penantian panjang
Ku akan tetap setia menunggumu, Ku tahu kau hanya untukku
Biarlah waktuku habis oleh penantian ini
Hingga kau percaya betapa besar, Cintaku padamu
Ku tetap menanti..

Tak terasa, air mataku mengalir deras. Sederas air terjun. Mereka menatapku iba. “Aku ingin melupakan dia..” ujarku. “Aku nggak mau kepikiran terus.” Kataku yang masih terisak.
“First Love itu mustahil untuk dilupakan.” Kata Rafli. Selalu saja itu yang terucap dari bibir mereka! Aku benci! Sampai aku bosan mendengarnya. “Satu-satunya jalan yang bisa kamu lakukan adalah, mencari orang yang bisa buat kamu jatuh cinta!” jelas Rafli. Nggak! Aku nggak akan lakukan hal konyol itu! Biarlah ini sakit! Toh yang sakit aku kan? Bukan dia, kamu, kita, mereka, ataupun Obama sekalipun kan?

Istirahat tiba. Ku habiskan waktuku hanya dikelas. Ditemani bayangan dingin kehampaan tubuhku. Wajahku basah karena air mata yang mengalir. Gara-gara masalah ini, aku jadi cewek cengeng! Ahh, bukan sifatku! Geram lama-lama. Sylvi, sahabatku datang dan duduk disampingku.
“Jangan sedih ya.” Ucapnya.
“Sylvi, aku bukan Destroyer..” isakku. Aku memukul tanganku pada meja. “ARGGHHH!” teriakku sekeras mungkin. Kesal, marah, dan kecewa tentunya.
“Ya Rizky, aku tahu itu. Sabar ya sayang, bukankah itu resiko seorang Problem Solver? Yang penting kamu sabar dan tabah. Tiba saatnya, semua ini akan kembali seperti biasa dan dia pasti tahu kok.” Jawab Sylvi. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya, pertanda ucapan terima kasihku padanya. “Tetap semangat ya. Jangan sedih terus dong. Jangan kau buat seperti itu dirimu. Nanti kau bisa tertekan, bahkan kau bisa Stress.”

Esoknya seperti biasa: duduk termenung dibangku! Meratapi betapa pedihnya kehidupan ini. Dulu di SD, aku terkenal sebagai Problem Solver-nya anak Zainuddin. Sering dipuji, juga sering dibenci. Dan terkadang, sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Padahal sebenarnya, Problem Solver bukanlah pekerjaan mudah. Nggak hanya menyelesaikan masalah, tapi juga harus menghadapi resiko-resiko. Resiko terbesarnya adalah DIBENCI! Jadi nggak usah heran kalau aku banyak yang dibenci. Pernah juga dibenci sama anak satu sekolah, karena aku menyelesaikan masalah kakak kelas yang sedang dibenci sama anak-anak, Pernah dicap sebagai pengatur, dicap sebagai DESTROYER, dan fitnahan lainnya. Itulah, yang menyebabkan banyak Problem Solver berhenti ditengah jalan. Jumlahnya aja nggak sampai 10 juta orang. Nggak sebanyak para Gamers. Termasuk aku sendiri akan berencana berhenti dari pekerjaan membantu orang ini. Karena aku udah capek disebut sebagai DESTROYER. Aku udah sering mengalami gangguan mental. Dan masalah Uzzy ini menjadi masalah terakhir yang aku selesaikan. Semakin lama aku malah jadi cewek yang begitu cengeng. Padahal akunya nggak pernah nangis karena hal yang nggak jelas kayak gini. Nggak jelas? Sebegitu mudahnya aku mengatakan kalau hal ini adalah hal yang nggak jelas. Penyakit lama para Problem Solver muncul: DEPRESI!

Aku merasa aku jadi lebih berbeda dari biasanya. Pasif, diam, merenung. Nggak pernah keluar rumah. Nggak cerita-cerita lagi sama Andika, Rafli, atau Ifan. Nggak jadi problem solver lagi. Jarang makan. Nggak punya gairah. Bosenan. Dan begitu hal yang banyak memperngaruhiku. Sampai-sampai semua pada mengadu ke aku soal ini.
“Kamu kok gitu seh?”
“Kok jadi pemurung?”
“Kenapa kamu nggak kayak yang dulu?”
“Kamu jadi pasif gini sih?”
“Kenapa kamu nangis terus sih?”
“Kok cuek?”
Dan begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mereka. Aku diam dan menanggapi dingin akan hal ini.

Kesedihanku tak berujung. Terus menerus datang silih berganti. Air mataku juga tak henti-hentinya meluncur dari kelopak mataku. Aku Cuma bisa menuliskan kesedihan ini didalam sebuah cerpen. Karena tak mungkin ada seseorang yang mengerti. Jadi lebih baik aku menulisnya. Biarlah, ada orang yang mengatakan, “Seenaknya saja nulis-nulis atau nyeritain orang di cerpen! Kurang kerjaan? Atau emang nggak berani langsung ngomong sama orangnya?” Ya Allah. Kalau dibilang kurang kerjaan, it’s okay aku terima. Tapi kalau dibilang nggak berani ngomong langsung? Itu bukan sifatku! Aku nggak licik. Percuma aja kalau aku ngejelasin masalahnya setinggi himalaya dan selebar jagad raya atau apapun itu nggak bakal dia ngerti. Dipendam saja! Itulah hal yang terbaik yang bisa aku lakukan saat ini. Mungkin itu nyakitin hati? Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Maybe, Everything Gonna be Okay.

Aku berjalan tepat didepan Uzzy yang sebenarnya aku pun tak menyadarinya. Aku membawa sebuah piring kaca yang akan ku bawa ke kantor. Tapi sebuah hal yang tak kusangka..
BRUKK!!!
Uzzy menyenggol tubuh mungilku dengan kuat dan akhirnya aku jatuh terpeleset sekaligus piring kaca yang aku bawa mengenai lengan kiriku. Luka sobek yang lumayan lebar dan mengeluarkan banyak darah. Sylvi seketika datang dan menolongku untuk berdiri.
“Astaghfirullah Rizky! Kau tak apa kan? Ayo segera aku antar ke ruang BK!” seru Sylvi.

“Ada apa ini?” tanya Bu Dian, guru BK kelasku. “Tadi Rizky membawa piring dan disenggol oleh seseorang. Dan salah satu pecahan piring itu mengenai lengannya.” Jelas Sylvi.
“Ya Allah, lebar sekali lukanya. Segera kita bawa ke puskesmas.” Perintah Bu Dian.
Akhirnya, aku dibawa ke puskesmas. Pecahan piring itu dibersihkan oleh petugas kebersihan sekolah. Sementara Uzzy, hanya cuek dan menatapku tajam.
Aku menatap luka jahitan yang dibalut perban putih. Sakit sih. Namun sakitnya nggak sesakit kesedihanku. Walau aku luka seperti apapun, cacat seperti apapun, tapi semua itu nggak sesakit rasa sedih yang aku alami belakangan ini. Aku nggak tahu modus apa yang dilakukan Uzzy. Mungkin balas dendam? Biarlah, itu resiko. Toh, dia nggak bakal nangisin aku kan? Saat disekolah, tak henti-hentinya Sylvi menanyakan keadaanku.
“Eh Uzzy, kamu emang nggak punya hati dan nggak tahu diri ya?” kata Sylvi. “Kamu nggak tahu apa? Rizky itu bukan DESTROYER! Kamu nya aja yang salah faham! Eh, sekarang pakai modus nyelakain Rizky kayak gituan!” Bentak Sylvi.
“So? Penting kah? Emang gue pikirin?” tanya Uzzy dengan sebegitunya -_-
“Dasar! Kamu emang cowok yang..”
“Cukup Sylvi! Cukup!” aku memotong perkataannya. “Aku terluka karena kecelakaan semata! Ini murni karena kecerobohanku sendiri. Nggak usah kamu hubung-hubungkan sama masalah DESTROYER! Sebaiknya kita pergi dari sini!” ucapku yang begitu muak.
“Kamu ini apaan sih? Aku belain kamu buat nuntut dia ke BK kamu malah belain dia. Aku belain kamu biar Uzzy sadar kamu malah nggak mau. Kamu juga kalau biasanya lihat darah bakal ngeraung-raung nggak jelas kayak teroris yang ditangkap polisi. Kenapa kamu ini?” tanya Sylvi.
“Kamu ngebantu aku tapi ya nggak kayak gini caranya. Dia malah makin salah faham. Udahlah, lupakan Uzzy. Aku muak.” Jawabku malas. Semalas malasnya dua tingkat dari malas.

Pukul 12.00 dan artinya waktunya istirahat. Bedanya kali ini, aku ditemani Sylvi yang sedang apel dengan Rafli (pacaran maksudnya). Aku sedang membuka Facebook. Dan sangat tak kusangka, Uzzy sedang online, dia meng-update status.
Ruzzy Septian Radityo
Enak aja, nuduh aku kalau aku yang salah faham. Jelas-jelas dia salah. DESTROYER tetap DESTROYER :D
*Evil Laugh

Ya Allah, tahu nggak status ini buat siapa? Jelasnya buat aku! Tak mau kalah, aku juga mengupdate status. Balas-balasan maksudnya.
Lilyana Rizky Syafira
Ya Allah, sabarkan aku dan sadarkan dia :’)

Hari demi hari berlalu. Dan Uzzy juga makin membenciku. Entah kenapa, aku memikirkannya malam ini. Aku heran, mengapa dia membenciku? Sudahlah, tak perlu memikirkan dia lagi. Yang penting aku nggak membenci dia. Aku berbaring di kasur dan menatap langit-langit kamar. Terbesit kenangan tentang Uzzy. Dan nggak mungkin aku melupakan hal itu, nggak secepat membalikkan halaman buku. Aku menatap jendela. Hujan kali ini begitu deras disertai petir yang menyambar-nyambar. Begitu menyedihkan, sebegitu menyedihkannya sampai hatiku juga ikut merasakannya. Aku memutar lagu Greatest Day dari Take That, boyband asal Inggris. Aku mendalami lagu itu dan tertegun.

Aku melihat luka yang masih dibalut perban itu. Aku masih teringat akan kejadian 2 hari yang lalu. Lagu berganti dengan lagu berikutnya. Vanilla Twilight dari Owl City, yang merupakan salah satu lagu favorite ku dan lagu favorite Uzzy. Lagu itu membuat aku makin membuat aku menggali kenangan tentang Uzzy. Membuat aku makin ingat dengannya.
The stars lean down to kiss you,
And I lie awake and miss you.
Pour me a heavy dose of atmosphere.
‘Cause I’ll doze off safe and soundly,
But I’ll miss your arms around me.
I’d send a postcard to you dear,
‘Cause I wish you were here.
Mendengar lirik, “Cause I wish you were here” membuat aku menangis. Aku teringat, waktu itu aku dan Kevin, sahabatku sedang mempelajari lagu ini. Membawa lirik lagu sambil memutar lagu itu juga. Dan saat itu Uzzy datang, sambil menyanyikan lirik,
“Cause I wish you were here”
Aku baru bisa mendengar Uzzy menyanyi dengan suara yang membuatku berdesir seperti angin. Biasanya, aku hanya mendengarnya bergumam. Aku begitu terharu teringat kejadian itu.

I’ll watch the night turn light blue.
But it’s not the same without you,
Because it takes two to whisper quietly,
The silence isn’t so bad,
Till I look at my hands and feel sad,
‘Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly.

I’ll find repose in new ways,
Though I haven’t slept in two days,
‘Cause cold nostalgia chills me to the bone.
But drenched in Vanilla twilight,
I’ll sit on the front porch all night,
Waist deep in thought because when I think of you.

“I don’t feel so alone” , itu bukan suara Adam Young, vokalis Owl City meskipun menyanyikan lirik yang sama. “I don’t feel so alone.” Ulangnya. Perlahan aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Uzzy berdiri di ambang pintu kamarku yang sedang terbuka. “I don’t feel so alone.” Ulangnya sekali lagi sambil menatapku dengan tatapan penuh arti. “As many times as I blink I’ll think of you… tonight.”
“I’ll think of you tonight.”
Uzzy melanjutkan bait lagu itu. Yang merupakan puncak dari lagu itu dan yang paling aku suka. Sylvi berdiri dibalik punggung Uzzy.

When violet eyes get brighter,
And heavy wings grow lighter,
I’ll taste the sky and feel alive again.
And I’ll forget the world that I knew,
But I swear I won’t forget you,
Oh if my voice could reach back through the past,
I’d whisper in your ear,
Oh darling I wish you were here.
“Uzzy?” tanyaku. Bagaimana bisa dia berada disini dan menatapku yang sedang menangis seperti ini? Semua ini salah hujan.
“Ya, Aku disini..” katanya, dan perlahan memasuki kamarku. “Maafkan aku Rizky, aku hanya ingin kau berubah. Bukan maksudku ingin membencimu, tapi aku hanya ingin kau tidak mempunyai sifat alay dan sok itu.” Jawabnya. Seketika itu aku bermuram durja.
“Jadi selama ini?” aku berusaha merangkai kata-kata, “Jadi selama ini itu tujuanmu? Merubah sifat itu nggak secepat membalikkan halaman buku. Merubah sifatku tapi juga bukan begini caranya!” tak terasa, butiran air mata jatuh dari kelopak mataku. Kecewa, itu pasti!
“Aku minta maaf..” rintihnya sekali lagi
“Cukup, sebaiknya aku yang minta maaf. Jadi hutangku lunas!” timpalku.
“Jadi, kamu tak mau maafin aku?” tanyanya dengan muka kalut. “Kata siapa?” aku tersenyum dan segera menghapus air mataku. “Jangan ulangi lagi ya.” terangku padanya. Uzzy menatapku senyuman bahagia. Sylvi pun begitu. Aku berpelukan. Dengan mereka. Kesedihanku hari hari yang lalu, seketika terhapus dengan malam ini. Saat orang yang aku sayangi berada didekatku dan mengerti perasaanku. Uzzy, I LOVE YOU !!

Sumber Pustaka : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/kesedihanku.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s